Now Playing Tracks

Coklat Panas yang Mendingin: Tak Mampu Mendinginkan Rindunya yang Panas dan Dahaga

Siang yang panas, sekitar pukul tiga belas. Lelaki berkacamata dengan perasaan rindu yang selalu dibawa kemana-mana, ia memutuskan untuk berhenti di sebuah cafe di pinggiran kota. Ia memilih duduk di bangku pojokan dan memesan secangkir coklat panas dan kentang goreng. Sembari menunggu datangnya pesanan, ia sibuk dengan laptop dihadapannya dan sesekali melirik ponselnya, barangkali ia sedang menunggu, sesekali ia minum coklatnya.

Beberapa menit kemudian pesanan yang ia pesan datang, tetapi bukan itu yang ia tunggu, barangkali ia menunggu seseorang. Ya, ia menunggu seseorang perempuan mengabarinya. Perempuan itu kekasihnya yang sedang kuliah di Jogja, sedangkan lelaki berkacamata itu berada di Malang. Mereka melakukan jalinan percintaan jarak jauh yang membuat masing-masing rindu. 390 kilometer jarak mereka, tetapi itu bukan masalah jika mereka benar-benar saling mencintai.

Seperti penggalan lagu dari Inka Christie & Amy Search - Cinta Kita

                                 andai dipisah laut dan pantai

                                  tak akan goyah gelora cinta

                                  andai dipisah api dan bara

                                 tak akan pudar sinaran cinta

Seperti itu pula cinta mereka, walau berkilometer jarak memisahkan tetapi mereka memegang janji untuk tetap setia. Setia itu seperti mendaki gunung, sulit dan perlu perjuangan, tetapi bermekar indah di puncaknya. Tanpa aba-aba, keindahannya menyunggingkan senyum bahagia para pendaki yang telah mencapai puncaknya.

"drrttt drrrttt drrttt.." ponselnya bergetar memecah rindunya. Seseorang yang ditunggu mengabarinya. Ia cukup lega, meski sebenarnya rindunya  dahaga. Coklat panas yang ia pesan telah mendingin, tetapi tak mampu mendinginkan rindunya yang panas. Rindunya mendidih ketika terdengar lagu Christina Perri - Miles yang keluar dari speaker cafe bagai anak panah yang melesat ke arah telinga dan hati lelaki itu.

One day we will realize how hard it was, how hard we tried

And how our hearts made it out alive

And these are words i wish you’d said

But that’s not how it went

Cause you gave up on us in the end

And i wont make it alone, i need something to hold

LDR-isme

carimichan:

Sering gemes dengan orang-orang yang ngetuit atau bikin status FB tentang LDR dengan panjang lebar. Entah yang arahnya ke nyemangatin atau demotivasi. Buat saya sih sama aja. Sama-sama gemesin!

Saya sebagai pelaku LDR sejak tahun 2005 sampai dengan sekarang (dengan orang-orang yang berbeda), kadang masih suka senyum-senyum kecut aja kalo disuruh komentar soal LDR. Alasannya simpel, LDR itu bukan untuk dikomentarin atau dijabarin, tapi dijalanin.

Dari dulu sampai sekarang sih (alhamdulillah) masih konsisten buat setia. Meski pasti selalu ada kesalahan, pembenaran, dan perbaikan. Awal mengalami LDR tahun 2005 itu, saya merasa itu titik awal saya untuk bisa naik kelas. Dalam hati, “egila gue bisa kaga yaa setiaaa?" tapi semua saya libas dengan cantiknya.

Terbukti seringnya pihak cowok yang selingkuh. HAHAHA. Lain mantan lain cerita. Setelah putus, saya kembali menjalani LDR dengan seseorang yang lain. Kali ini ceritanya lebih serius. Cuma lagi-lagi kandas karena setelah setahun lebih pacaran, ada hal yang sulit sekali berjodoh. Ya sudah, diakhiri saja. (Sebenernya sih kemunduran, karena masih kalah usia LDR pertama yang 3 tahun lebih

Dan sampai pada momen LDR yang sekarang. Sebenernya agak lebih enteng dan tenang. Saya bilang sih karena situasi dan kondisinya mendukung, ditambah banyak faktor x yang menjadi pertimbangannya. 

Balik lagi, itu kenapa saya bilang LDR itu nggak perlu dikomentarin, tapi dijalanin. Nggak perlu sering mengumbar bagaimana rasa cinta yang mendalam terhadap pasangan LDR kita di depan publik. Nggak perluu. Karena hal itu adalah bagian dari mengomentari hubungan sendiri. Buat apa banyak ‘pengumuman’ kalo ternyata hubungannya sendiri jadi lemah karena akibat tindakan sendiri? Rugi lah jek!

Daripada sibuk bermesra-mesraan nggak jelas di media sosial, mending sibuk berkomunikasi dengan pasangan LDR kita. Sibuk untuk mengenal bagaimana kepribadian pasangan kita. Bukankah dengan mengenal maka kita jadi tambah mengerti hubungan tersebut akan gimana ke depannya? 

Mau dibawa nikah kek. 

Mau dibawa punya anak kek. 

Mau dibawa ke mana aja kek. Terseraaaah.

Yang penting KENAL dan punya komunikasi yang terjaga dengan baik. 

Tutup kuping buat orang yang ngomong negatif tentang LDR. Dan kita nggak perlu sibuk komentarin atau debat mereka. Cukup senyum atau ketawain aja mereka. Lah pacaran satu kota aja banyak yang kandas kok, kenapa harus meributkan soal pacaran jarak jauh sih.

Buat saya, menjalani pacaran LDR itu seperti agama. Asal kita percaya dan kita memiliki alasan yang kuat yang juga kita yakini, ya sudah apalagi. Kuncinya ya JALANI. 

(ALAMAK! Macam motivator LDR kali saya ini. HAHAHAHA)

Namanya juga pacaran, proses saling mengenal satu sama lain. kepribadian dan tingkah laku. Sebenarnya kan mau pacaran LDR atau bukan pun yang perlu kita kenal dan pelajari dari pasangan adalah MANAJEMEN LELAH-nya. Istilah ini saya pinjam dari life partner saya, Rifki Ferdinal. Bahwa apapun yang terpenting setelah komunikasi adalah faktor bagaimana setiap diri kita dapat mengatur emosi disaat lelah. Situasi lelah itu memang dapat memunculkan sifat asli seseorang. Makanya hal ini dianggap salah satu terpenting karena untuk dapat memberikan kita pertimbangan dan tindakan antisipasi. 

Kalau ditanya kenapa saya milih LDR lagi sekarang, saya punya banyaaaaaaak sekali alasan. Pertama adalah karena ya memang jodohnya harus pacaran LDR dulu gitu. Kedua, mungkin metode ini adalah metode yang cocok untuk saya yang tidak sabaran dan serba buru-buru. LDR itu melatih sabar dan terhindar dari kelelahan dengan rindu. HAHAHA. Ketiga, toh ini saya meyakini untuk menjadi LDR yang terakhir dan menyelesaikannya di pelaminan dengan tidak LDR lagi (yaiya dong, ini mah harapan semua yang LDR

Boleh deh saya bagi tips LDR:

- nggak usah maksain LDR kalo nggak cinta-cinta amat

- cek en ricek dulu, dengan orang yang seperti apa yang jadi pasangan LDR kita

- paling nggak, sebulan sekali harus ketemu langsung

- untuk cewek, jangan mau sama cowok cengeng dan nggak punya prinsip

- untuk cowok, jangan mau sama cewek yang milih baju aja galau

- pacaran LDR itu harus segera putus, putus untuk menikah resmi (PLAKKK! berasa ketampar sendiri)

- pacaran boleh LDR, jangan ampe menikah juga LDR (dikira bayi bakal muncul dari belah batu?!)

Baiklah, saya sudah cukup berkomentar soal LDR. HAHAHA. Dan bahkan postingan ini isinya adalah komentar yang kepanjangan. Nggak apa-apa deh. Semoga bisa berfaedah untuk semua pasangan LDR atau yang galau untuk LDR.

Buat yang udah LDR terus gagal, bisa dicoba lagi atau…….mending cari metode lain deh buat pacaran. Males juga buat komentarin soal ini. HAHAHAHAHA.

Selamat mencintai jarak dengan merindu yaa! 

PS: Silakan kalo yang mau komentar balik soal LDR, semoga saya nggak minat buat menjawabnya. Semoga sih gitu, kecuali kalo kepepet. LALALA~

sadgenic:

Malam makin surut. Sepi sudah melarut. Yang ramai cuma hujan dan tanda tanya yang muncul seperti halilintar.

Bulan mulai berkarat merengek meminta pagi. Keresahan membuatmu ingin tertahan di malam bersamanya tanpa ingin berganti hari

We make Tumblr themes